QS. Al-Ahzab [33] : 21
Nabi Muhammad Saw. Berulang kali mengaku diperintahkan untuk
menyatakan, “Aku tidak lain dari manusia
seperti kamu juga,hanya saja aku mendapat wahyu.” Mendapat wahyu itulah
yang membedakan manusia ini dengan manusia lain. Akan tetapi,perlu diingat
bahwa beliau mendapatkan wahyu karena beliau adalah manusia agung, seperti yang
terdapat dalam firman Allah kepadanya,Sesungguhnya
engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Demikian konsiderans
pengangkatan beliau sebagaimana diabadikan oleh QS. Al-Qalam [68]:4.
Sebagai manusia,beliau dapat dilukiskan,bahkan dilukis,karena informaasi tentang fisik,penampilan,dan perawakan beliau amat kaya. Bukankah banyak ahli yang dapat melukis melalui informasi?kalau bukan karena penghormatan,atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya,niscaya tidak ada larangan untuk melukiskan beliau,atau memerankan perannya dalam layar kaca dan layar lebar,sehingga lukisan yang menampilkan diri beliau akan mudah dilihat di mana- mana.
Tingginya sedang-sedang saja,tidak gemuk tidak pula kurus. Bahunya lebar,dadanya bidang,ototnya kekar,dan kepalanya sedikit besar. Rambutnya hitam gelap,sedikit ikal,teruarai sampai ke pundaknya dan selalu tersisir rapi. “Siapa yang memiliki rambut hendaknya dia menghormatinya’,yakni menyisirnya dengan rapi”,begitu pesannya. Dalam usianya yang lanjut,hanya terdapat sekitar dua puluh lembar ubannya. Uban itu,menurut beliau, akibat ketegangannya saat menerima Surah Hud yang mengandung ancaman.
Mukanya bulat,menarik bagai purnama. Matanya hitam cemerlang dan bersinar, tetapi putih matanya sangat jernih. Bulu matanya hitam,panjang dan tebal sehingga terlihat bagaikan memakai celak.
Hidungnya mancung sedikit besar,giginya tersusun rapi dan diurusnya tidak kurang dari sepuluh kali sehari dengan menggunakan siwak( semacam sikat gigi terbuat dari dahan kayu). Kulihatnya bersih dan lembut. Warnanya campuran “putih kemerah-merahan”.
Tangannya lakana sutra, bagi kelembutan tangan wanita. Langkahnya cepat dan luwes,seperti seorang yang turun dari ketinggian. Bahasanya jelas dan indah terdengar. Sering kali,ketika berbicara,beliau menggelengkan kepala atau menepuk telapak tangannya dengan jari telunjuk serta mengigit-gigit bibirnya. Kalimat-kalimatnya yang penting sering kali diulang hingga tiga kali,agar dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh pendengarnya.
Bila menoleh, beliau menoleh dengan seluruh badannya; dan bila menunjuk,beliau menunjuk dengan seluruh jarinya. Begitulah kebiasaan beliau. Beliau tidak makan kecuali lapar,dan jika makan tidak kenyang,dan sealu memulainya dengan basmalah. Madu dan susu adalah makanan mewah yang beliau sukai. Sayang,kedua jenis minuman itu tidak dapat sering disuguhkan, walaupun ketika beliau telah menguasai Jazirah Arabia. Bahkan,tidak jarang pada pagi hari, ketika hendak sarapan,beliau tidak menemukan sesuatu yang dapat disantap sehingga beliau berpuasa.
Perawakannya gagah, penuh wibawa tetapi simpatik. Selalu tersenyum, walau tawanya jarang dan gelaknya tidak terdengar. Hartanya yang berharga adalah sepasang alas kaki berwarna kuning hadiah Negus dari Abisiania. Beliau sangat menyukai wewangian, sehingga tanpa melihat beliau pun dapat menyatakan bahwa beliau hadir ditempat itu karena keharumannya.
Hidupnya sangat sederhana. Beliau tinggal di sebuah pondok kecil beratap jerami. Kamar-kamarnya disekat dengan batang pohon palem dan direkat dengan lumpur. Beliau sendiri yang menyalakan api, memerahkan susu dan menjahit pakaiannya yang robek.
Beliau tidak pernah memukul siapa pun. Makiannya yang paling buruk adalah, “Apa yang terjadi padanya?semoga dahinya berlumuran lumpur. “ Pembantunya, Anas bin Malik berkata, “Sepuluh tahun aku berkerja padanya, tapi tidak sekali pun berkata ‘cis’ kepadaku.”
Sebagai manusia,beliau dapat dilukiskan,bahkan dilukis,karena informaasi tentang fisik,penampilan,dan perawakan beliau amat kaya. Bukankah banyak ahli yang dapat melukis melalui informasi?kalau bukan karena penghormatan,atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya,niscaya tidak ada larangan untuk melukiskan beliau,atau memerankan perannya dalam layar kaca dan layar lebar,sehingga lukisan yang menampilkan diri beliau akan mudah dilihat di mana- mana.
Tingginya sedang-sedang saja,tidak gemuk tidak pula kurus. Bahunya lebar,dadanya bidang,ototnya kekar,dan kepalanya sedikit besar. Rambutnya hitam gelap,sedikit ikal,teruarai sampai ke pundaknya dan selalu tersisir rapi. “Siapa yang memiliki rambut hendaknya dia menghormatinya’,yakni menyisirnya dengan rapi”,begitu pesannya. Dalam usianya yang lanjut,hanya terdapat sekitar dua puluh lembar ubannya. Uban itu,menurut beliau, akibat ketegangannya saat menerima Surah Hud yang mengandung ancaman.
Mukanya bulat,menarik bagai purnama. Matanya hitam cemerlang dan bersinar, tetapi putih matanya sangat jernih. Bulu matanya hitam,panjang dan tebal sehingga terlihat bagaikan memakai celak.
Hidungnya mancung sedikit besar,giginya tersusun rapi dan diurusnya tidak kurang dari sepuluh kali sehari dengan menggunakan siwak( semacam sikat gigi terbuat dari dahan kayu). Kulihatnya bersih dan lembut. Warnanya campuran “putih kemerah-merahan”.
Tangannya lakana sutra, bagi kelembutan tangan wanita. Langkahnya cepat dan luwes,seperti seorang yang turun dari ketinggian. Bahasanya jelas dan indah terdengar. Sering kali,ketika berbicara,beliau menggelengkan kepala atau menepuk telapak tangannya dengan jari telunjuk serta mengigit-gigit bibirnya. Kalimat-kalimatnya yang penting sering kali diulang hingga tiga kali,agar dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh pendengarnya.
Bila menoleh, beliau menoleh dengan seluruh badannya; dan bila menunjuk,beliau menunjuk dengan seluruh jarinya. Begitulah kebiasaan beliau. Beliau tidak makan kecuali lapar,dan jika makan tidak kenyang,dan sealu memulainya dengan basmalah. Madu dan susu adalah makanan mewah yang beliau sukai. Sayang,kedua jenis minuman itu tidak dapat sering disuguhkan, walaupun ketika beliau telah menguasai Jazirah Arabia. Bahkan,tidak jarang pada pagi hari, ketika hendak sarapan,beliau tidak menemukan sesuatu yang dapat disantap sehingga beliau berpuasa.
Perawakannya gagah, penuh wibawa tetapi simpatik. Selalu tersenyum, walau tawanya jarang dan gelaknya tidak terdengar. Hartanya yang berharga adalah sepasang alas kaki berwarna kuning hadiah Negus dari Abisiania. Beliau sangat menyukai wewangian, sehingga tanpa melihat beliau pun dapat menyatakan bahwa beliau hadir ditempat itu karena keharumannya.
Hidupnya sangat sederhana. Beliau tinggal di sebuah pondok kecil beratap jerami. Kamar-kamarnya disekat dengan batang pohon palem dan direkat dengan lumpur. Beliau sendiri yang menyalakan api, memerahkan susu dan menjahit pakaiannya yang robek.
Beliau tidak pernah memukul siapa pun. Makiannya yang paling buruk adalah, “Apa yang terjadi padanya?semoga dahinya berlumuran lumpur. “ Pembantunya, Anas bin Malik berkata, “Sepuluh tahun aku berkerja padanya, tapi tidak sekali pun berkata ‘cis’ kepadaku.”
Ketika ada yang memintanya mengutuk seseorang, beliau menjawab, “aku diutus bukan untuk mengutuk,tetapi untuk mengajar.”
Kemenangan pasukannya tidak membuatnya angkuh. Beliau memasuki kota Makkah yang penduduknya pernah mengusirnya dengan menundukkan kepala sambil menamai bekas orang yang memusuhinya dengan “Saudara yang mulia, atau Putra saudara yang mulia”.
Teladan yang Baik
Muhammad Saw adalah uswah(teladan) dalam sifatnya yang luhur. Adalah Al-Quran Al- Karim sendiri yang menegaskan,Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah(Muhammad Saw)teladan yang baik bagi siapa yang mengharap(anugerah)Allah dan (ganjaran) di Hari Kemudian, serta banyak menyebut nama Allah (QS. Al-Ahzab[33]:21).
Bagaimanakah peneladanan itu harus dilakukan?Mengapa dan sampai di mana batas-batasnya?Kesemuanya merupakan bahan perbincangan para pakar dan ulama.
Ada yang memulai uraiannya dari masa kelahiran pribadi agung tersebut lima ratus tahun abad yang lalu. Ada yang melihat jauh sebelum itu, Bahkan sebelum penciptaan manusia pertama Adam atau bahkan dikaitkan dengan tujuan penciptaan alam raya ini.
Allah Swt. Mempunyai tujuan-tujuan tertentu pada penciptaan alam raya ini. Allah Swt. Berfirman,kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main(QS. Al-Anbiya’[21]:16). Banyak hal dilakukan Allah berkaitan dengan tujuan penciptaan tersebut,salah satu di antaranya adalah mengutus para nabi dan rasul untuk memberi petunjuk dan contoh pelaksanaan bagi masyarakat tertentu, atau umat manusia secara keseluruhan.
Apa Saja yang Harus Diteladani?
Kembali kepada soal uswah (keteladanan). Apakah hal-hal yang bersifat pribadi atau yang berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, juga merupakan bagian dari yang harus diteladani?
Salah satu jawaban yang dikemukakan para pakar adalah memilih-milih keteladanan itu sesuai dengan sikap Nabi, seperti yang dijelaskan diatas, yakni dengan menyatakan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh pribadi agung itu,selama bukan merupakan kekhususan yang berkaitan dengan kerasulan dan bukan juga merupakan penjelasan ajaran agama, maka hal tersebut harus diteliti, apakah ia diperagakan dalam kaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah atau tidak? Jika dinilai berkaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah misalnya, membuka ala kaki ketika shalat maka ia termasuk bagian yang diteladani.
Akan tetapi, jika tidak tampak adanya indikator bahwa hal tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Misalnya,menggunakan pakaian tertentu, seperti memakai jubah,sandal berwarna kuning,rambut gondrong dan sebagainya maka hal ini hanya menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti dengan status mubah. Akan tetapi, bila ada yang mengikutinya dengan niat meneladani Nabi Saw,maka niat keteladanan itu mendapat ganjaran dari Allah Swt.
Sebelum mengakhiri uraian ini,perlu digaris bawahi bahwa dalam ayat yang berbicara tentang uswah tampak dirangkaikan dengan kata “Rasulillah”(Laqad kana lakum fi Rasulillah). Namun, tidak mudah memisahkan atau memilah mana pekerjaan atau ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai rasul, dan mana pula yang dalam kedudukan lainnya.
Muhammad Saw adalah uswah(teladan) dalam sifatnya yang luhur. Adalah Al-Quran Al- Karim sendiri yang menegaskan,Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah(Muhammad Saw)teladan yang baik bagi siapa yang mengharap(anugerah)Allah dan (ganjaran) di Hari Kemudian, serta banyak menyebut nama Allah (QS. Al-Ahzab[33]:21).
Bagaimanakah peneladanan itu harus dilakukan?Mengapa dan sampai di mana batas-batasnya?Kesemuanya merupakan bahan perbincangan para pakar dan ulama.
Ada yang memulai uraiannya dari masa kelahiran pribadi agung tersebut lima ratus tahun abad yang lalu. Ada yang melihat jauh sebelum itu, Bahkan sebelum penciptaan manusia pertama Adam atau bahkan dikaitkan dengan tujuan penciptaan alam raya ini.
Allah Swt. Mempunyai tujuan-tujuan tertentu pada penciptaan alam raya ini. Allah Swt. Berfirman,kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main(QS. Al-Anbiya’[21]:16). Banyak hal dilakukan Allah berkaitan dengan tujuan penciptaan tersebut,salah satu di antaranya adalah mengutus para nabi dan rasul untuk memberi petunjuk dan contoh pelaksanaan bagi masyarakat tertentu, atau umat manusia secara keseluruhan.
Apa Saja yang Harus Diteladani?
Kembali kepada soal uswah (keteladanan). Apakah hal-hal yang bersifat pribadi atau yang berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, juga merupakan bagian dari yang harus diteladani?
Salah satu jawaban yang dikemukakan para pakar adalah memilih-milih keteladanan itu sesuai dengan sikap Nabi, seperti yang dijelaskan diatas, yakni dengan menyatakan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh pribadi agung itu,selama bukan merupakan kekhususan yang berkaitan dengan kerasulan dan bukan juga merupakan penjelasan ajaran agama, maka hal tersebut harus diteliti, apakah ia diperagakan dalam kaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah atau tidak? Jika dinilai berkaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah misalnya, membuka ala kaki ketika shalat maka ia termasuk bagian yang diteladani.
Akan tetapi, jika tidak tampak adanya indikator bahwa hal tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Misalnya,menggunakan pakaian tertentu, seperti memakai jubah,sandal berwarna kuning,rambut gondrong dan sebagainya maka hal ini hanya menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti dengan status mubah. Akan tetapi, bila ada yang mengikutinya dengan niat meneladani Nabi Saw,maka niat keteladanan itu mendapat ganjaran dari Allah Swt.
Sebelum mengakhiri uraian ini,perlu digaris bawahi bahwa dalam ayat yang berbicara tentang uswah tampak dirangkaikan dengan kata “Rasulillah”(Laqad kana lakum fi Rasulillah). Namun, tidak mudah memisahkan atau memilah mana pekerjaan atau ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai rasul, dan mana pula yang dalam kedudukan lainnya.
Bukankah Allah Swt. Juga berfirman, Wa ma Muhammadun illa
rasul (Muhammad itu tidak lain kecuali seorang rasul) (QS. Ali’Imran[3]:144).
Demikian sedikit tentang Nabi yang selalu diperingati
kelahirannya, dan disebut-sebut namanya setiap hari oleh ratusan juta manusia. Yang
membicarakan beliau juga memperoleh ganjaran yang tidak sedikit dari Allah Swt.
Sebab,memuji dan memohonkan shalawat dan rahmat untuk beliau adalah sesuatu
yang dianjurkan.
Referensi dari buku Secercah Cahaya Ilahi,Penulis M. Quraish Shibab(Pakar Tafsir Indonesia)
Referensi dari buku Secercah Cahaya Ilahi,Penulis M. Quraish Shibab(Pakar Tafsir Indonesia)





0 komentar:
Posting Komentar