Jumat, Februari 28, 2014

#1Hari1Ayat (Muhammad Saw)



 QS. Al-Ahzab [33] : 21

Nabi Muhammad Saw. Berulang kali mengaku diperintahkan untuk menyatakan, “Aku tidak lain dari manusia seperti kamu juga,hanya saja aku mendapat wahyu.” Mendapat wahyu itulah yang membedakan manusia ini dengan manusia lain. Akan tetapi,perlu diingat bahwa beliau mendapatkan wahyu karena beliau adalah manusia agung, seperti yang terdapat dalam firman Allah kepadanya,Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Demikian konsiderans pengangkatan beliau sebagaimana diabadikan oleh QS. Al-Qalam [68]:4.
                Sebagai manusia,beliau dapat dilukiskan,bahkan dilukis,karena informaasi tentang fisik,penampilan,dan perawakan beliau amat kaya. Bukankah banyak ahli yang dapat melukis melalui informasi?kalau bukan karena penghormatan,atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya,niscaya tidak ada larangan untuk melukiskan beliau,atau memerankan perannya dalam layar kaca dan layar lebar,sehingga lukisan yang menampilkan diri beliau akan mudah dilihat di mana- mana.
                Tingginya sedang-sedang saja,tidak gemuk tidak pula kurus. Bahunya lebar,dadanya bidang,ototnya kekar,dan kepalanya sedikit besar. Rambutnya hitam gelap,sedikit ikal,teruarai sampai ke pundaknya dan selalu tersisir rapi. “Siapa yang memiliki rambut hendaknya dia menghormatinya’,yakni menyisirnya dengan rapi”,begitu pesannya. Dalam usianya yang lanjut,hanya terdapat sekitar dua puluh lembar ubannya. Uban itu,menurut beliau, akibat ketegangannya saat menerima Surah Hud yang mengandung ancaman.
                Mukanya bulat,menarik bagai purnama. Matanya hitam cemerlang dan bersinar, tetapi putih matanya sangat jernih. Bulu matanya hitam,panjang dan tebal sehingga terlihat bagaikan memakai celak.
                Hidungnya mancung sedikit besar,giginya tersusun rapi dan diurusnya tidak kurang dari sepuluh kali sehari dengan menggunakan siwak( semacam sikat gigi terbuat dari dahan kayu). Kulihatnya bersih dan lembut. Warnanya campuran “putih kemerah-merahan”.
                Tangannya lakana sutra, bagi kelembutan tangan wanita. Langkahnya cepat dan luwes,seperti seorang yang turun dari ketinggian. Bahasanya jelas dan indah terdengar. Sering kali,ketika berbicara,beliau menggelengkan kepala atau menepuk telapak tangannya dengan jari telunjuk serta mengigit-gigit bibirnya. Kalimat-kalimatnya yang penting sering kali diulang hingga tiga kali,agar dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh pendengarnya.
                Bila menoleh, beliau menoleh dengan seluruh badannya; dan bila menunjuk,beliau menunjuk dengan seluruh jarinya. Begitulah kebiasaan beliau. Beliau tidak makan kecuali lapar,dan jika makan tidak kenyang,dan sealu memulainya dengan basmalah. Madu dan susu adalah makanan mewah yang beliau sukai. Sayang,kedua jenis minuman itu tidak dapat sering disuguhkan, walaupun ketika beliau telah menguasai Jazirah Arabia. Bahkan,tidak jarang pada pagi hari, ketika hendak sarapan,beliau tidak menemukan sesuatu yang dapat disantap sehingga beliau berpuasa.
                Perawakannya gagah, penuh wibawa tetapi simpatik. Selalu tersenyum, walau tawanya jarang dan gelaknya tidak terdengar. Hartanya yang berharga adalah sepasang alas kaki berwarna kuning hadiah Negus dari Abisiania. Beliau sangat menyukai wewangian, sehingga tanpa melihat beliau pun dapat menyatakan bahwa beliau hadir ditempat itu karena keharumannya.
                Hidupnya sangat sederhana. Beliau tinggal di sebuah pondok kecil beratap jerami. Kamar-kamarnya disekat dengan batang pohon palem dan direkat dengan  lumpur. Beliau sendiri yang menyalakan api, memerahkan susu dan menjahit pakaiannya yang robek.
                Beliau tidak pernah memukul siapa pun. Makiannya yang paling buruk adalah, “Apa yang terjadi padanya?semoga dahinya berlumuran lumpur. “ Pembantunya, Anas bin Malik berkata, “Sepuluh tahun aku berkerja padanya, tapi tidak sekali pun berkata ‘cis’ kepadaku.”

                Ketika ada yang memintanya mengutuk seseorang, beliau menjawab, “aku diutus bukan untuk mengutuk,tetapi untuk mengajar.”
                Kemenangan pasukannya tidak membuatnya angkuh. Beliau memasuki kota Makkah yang penduduknya pernah mengusirnya dengan menundukkan kepala sambil menamai bekas orang yang memusuhinya dengan “Saudara yang mulia, atau Putra saudara yang mulia”.

Teladan yang Baik
                Muhammad Saw adalah uswah(teladan) dalam sifatnya yang luhur. Adalah Al-Quran Al- Karim sendiri yang menegaskan,Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah(Muhammad Saw)teladan yang baik bagi siapa yang mengharap(anugerah)Allah dan (ganjaran) di Hari Kemudian, serta banyak menyebut nama Allah (QS. Al-Ahzab[33]:21).
                Bagaimanakah peneladanan itu harus dilakukan?Mengapa dan sampai di mana batas-batasnya?Kesemuanya merupakan bahan perbincangan para pakar dan ulama.
                Ada yang memulai uraiannya dari masa kelahiran pribadi agung tersebut lima ratus tahun abad yang lalu. Ada yang melihat jauh sebelum itu, Bahkan sebelum penciptaan manusia pertama Adam atau bahkan dikaitkan dengan tujuan penciptaan alam raya ini.
                Allah Swt. Mempunyai tujuan-tujuan tertentu pada penciptaan alam raya ini. Allah Swt. Berfirman,kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main(QS. Al-Anbiya’[21]:16). Banyak hal dilakukan Allah berkaitan dengan tujuan penciptaan tersebut,salah satu di antaranya adalah mengutus para nabi dan rasul untuk memberi petunjuk dan contoh pelaksanaan bagi masyarakat tertentu, atau umat manusia secara keseluruhan.

Apa Saja yang Harus Diteladani?
                Kembali kepada soal uswah (keteladanan). Apakah hal-hal yang bersifat pribadi atau yang berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, juga merupakan bagian dari yang harus diteladani?
                Salah satu jawaban yang dikemukakan para pakar adalah memilih-milih keteladanan itu sesuai dengan sikap Nabi, seperti yang dijelaskan diatas, yakni dengan menyatakan bahwa sesuatu  yang dilakukan oleh pribadi agung itu,selama bukan merupakan kekhususan yang berkaitan dengan kerasulan dan bukan juga merupakan penjelasan ajaran agama, maka hal tersebut harus diteliti, apakah ia diperagakan dalam kaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah atau tidak? Jika dinilai berkaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah misalnya, membuka ala kaki ketika shalat maka ia termasuk bagian yang diteladani.
                Akan tetapi, jika tidak tampak adanya indikator bahwa hal tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Misalnya,menggunakan pakaian tertentu, seperti memakai jubah,sandal berwarna kuning,rambut gondrong dan sebagainya maka hal ini hanya menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti dengan status mubah. Akan tetapi, bila ada yang mengikutinya dengan niat meneladani Nabi Saw,maka niat keteladanan itu mendapat ganjaran dari Allah Swt.
                Sebelum mengakhiri uraian ini,perlu digaris bawahi bahwa dalam ayat yang berbicara tentang uswah tampak dirangkaikan dengan kata “Rasulillah”(Laqad kana lakum fi Rasulillah). Namun, tidak mudah memisahkan atau memilah mana pekerjaan atau ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai rasul, dan mana pula yang dalam kedudukan lainnya.
Bukankah Allah Swt. Juga berfirman, Wa ma Muhammadun illa rasul (Muhammad itu tidak lain kecuali seorang rasul) (QS. Ali’Imran[3]:144).
Demikian sedikit tentang Nabi yang selalu diperingati kelahirannya, dan disebut-sebut namanya setiap hari oleh ratusan juta manusia. Yang membicarakan beliau juga memperoleh ganjaran yang tidak sedikit dari Allah Swt. Sebab,memuji dan memohonkan shalawat dan rahmat untuk beliau adalah sesuatu yang dianjurkan.


Referensi dari buku Secercah Cahaya Ilahi,Penulis M. Quraish Shibab(Pakar Tafsir Indonesia)

Baca Selengkapnya

#1Hari1Ayat (Syahid dan syuhada)





Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah(bahwa mereka) itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya (QS. Al-Baqarah[2]:154)
            kata syahid dan syuhada,dalam istilah keagamaan populer dipahami dengan arti “orang yang gugur dimedan juang mempertahankan nilai-nilai agama”. Sementara ulama berpendapat bahwa Al-Quran tidak menggunakan kata syahid untuk menunjuk orang yang gugur.
            Pendapat itu tidak didukung oleh seluruh ulama. Al-Damighani,misalnya dalam kamus Al-Quran-Nya menyebut tujuh makna dari kata syahid dan kata – kata yang seakar dengannya. Yaitu para nabi,malaikat,pemelihara,umat Nabi Muhammad Saw.,yang gugur dijalan Allah,yang menyaksikan kebenaran atas mahluk Allah dan sekutu.
            Dalam Al-Quran,kata syahid secara berdiri sendiri ditemukan sebanyak 35 kali,sedangkan syuhada’sebanyak delapan kali. Kata-kata tersebut terambil dari akar kata syahida; sedangkan kata yang terangkai dari huruf-huruf syin,ha,dan dal menurut pakar bahasa Arab,Ibn Faris,tidak keluar maknanya dari “Kehadiran/keberadaan,pengetahuan,dan pemberitahuan”.
            Yang gugur dalam peperangan di jalan Allah dinamai Syahid karena para malaikat menghadiri kematiannya,atau karena dia gugur di bumi, dan bumi juga dinamai syahidah sehingga yang gugur dinamai syahid.
            Patron kata syahid dapat berarti objek dan dapat juga berarti subjek. Sehingga,syahid dapat berarti yang disaksikan atau menyaksikan. Dia disaksikan oleh pihak lain sebagai pejuang,serta dijadikan saksi dalam arti teladan. Pada saat yang sama, dia pun menyaksikan kebenaran melalui kegugurannya,serta menyaksikan pula ganjaran ilahi yang dijanjikan baginya.
            Nabi Muhammad Saw. Adalah syahid dan kita, umatnya adalah syuhada,begitu penegasan QS. Al-Baqarah[2]:143 dan Al-Hajj[22]:78. Kedua kata tersebut berarti teladan,dalam arti umat Islam harus menjadi syuhada’ (teladan-teladan kebijakan) bagi umat lain,dan Nabi Muhammad Saw. Adalah teladan bagi umatnya.
            Para syahid,bahkan semua yang telah wafat, menurut banyak ulama,kini sedang berada di satu alam yang dinamai barzakh. Al-Quran melukiskan kehidupan di sana dengan firman-Nya,...Sehingga apabila datang kematian kepada seorang di antara mereka(yang kafir), dia berkata, “ Ya Tuhanku,kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.”(Allah berfirman), “Sekali-kali tidak!Sesungguhnyaitu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding pemisah sampai hari mereka dibangkitkan” (QS.Al-Mu’minun[23]:99-100.
            Dari segi bahasa, “barzakh”berarti “pemisah”,maksudnya adalah “periode antara kehidupan dunia dan akhirat”. Keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan di dunia dan akhirat karena ia diibaratkan suatu ruangan terpisah yang transparan atau,katakanlah,terbuat dari kaca. Didepan,mereka melihat kehidupan ukhrawi serta apa yang akan mereka peroleh,sedangkan di belakangnya mereka dapat melihat kita yang sedang hidup di planet ini.
            ...... Fir’aun beserta kaum(pengikut)-Nya dikepung oleh siksa yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan (nanti) pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “ Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras (QS.Al-Mu’min[40]:45-46).
            Adapun para syahid,mereka dilukiskan sebagai orang – orang yang hidup dan mendapatkan rezeki. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orng yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka) itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup,tetapi kamu tidak menyadarinya (QS.Al-Baqarah [2]: 154). Dalam ayat lain, ditegaskan hal serupa, janganlah kamu sekali-kali menduga yang gugur di jalan Allah adalah orang – orang mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka memperoleh rezeki (QS. Ali ‘imron[3]:169.
            Sementara orang memahami “ ketidakmatian (kehidupan)mereka”  dengan arti keharuman dan kelanggengan nama mereka di dunia ini. Kalau demikian, mengapa QS. Al-Baqarah[2]:154 di atas menyatakan,....tetapi kamu tidak menyadarinya?Bukankah keharuman nama itu kita sadari? Kemudian, bukankah ada yang gugur dan dikenal namanya secara harum,padahal hakikatnya dia tidak dinilai Allah sebagai Syahid karena kegugurannya bukan karena Allah? Apakah dengan demikian dipersamakan antara yang baik dan yang buruk?Di sisi lain, bagaimana pula halnya dengan para syahid yang tidak dikenal, padahal jumlah mereka alangkah banyaknya. Apakah mereka tidak mendapat ganjaran? Bukankah Allah menyatakan bahwa mereka hidup dan mendapat rezeki?
            Cukup banyak ayat yang dapat dijadikan titik pijak bagi adanya apa yang dinamai kehidupan di alam barzakh. Bacalah misalnya QS. Al Baqarah[2]: 28, Al-Mu’min[40]:11, dan lain sebagainya. Hadis- hadis Nabi pun – dengan kualitas yang beragam – amat banyak yang berbicara tentang alam barzakh, sehingga amat riskan untuk menolak keberadaan alam itu hanya dengan menggunakan satu atau dua ayat yang sepintas terlihat berbeda dengan keterangan tersebut.
             Semoga arwah mereka tetap damai dan tenang ketika menengok ke jendela dunia dan melihat kita. Amin. Demikian,Wallahu a’lam.

Baca Selengkapnya

Rabu, Februari 26, 2014

#1Hari1Ayat (Ayat-Ayat Allah)


            Al-Quran dan fenomena alam dinamai oleh Al-Quran dengan ayat-ayat Allah. Ayat berarti tanda,yakni tanda-tanda perjalanan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
            Al-Quran Al-Karim adalah kitab yang rasul Saw. Dinyatakan sebagai “Tali Allah yang terulur kan ke langit ke bumi,di dalamnya terdapat berita tentang umat masa lalu,dan kabar tentang situasi masa datang. Siapa yang berpegang dengan petunjuknya dia tidak akan sesat. “Kitab suci ini juga memperkenalkan dirinya sebagai hudan lil al-nas (petunjuk bagi seluruh umat manusia),sekaligus menantang manusia dan jin untuk menyusun semacam Al-Quran. Dari sini Kitab suci kita berfungsi sebagai mukjizat(bukti kebenaran),sekaligus kebenaran itu sendiri.
            Lima belas abad yang lalu,ayat-ayat Allah itu diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Menurut Orientalis Gibb, “Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini,yang telah memainkan alat bernada nyaring  yang demikian mampu dan berani,dan yang demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya seperti apa yang dibaca oleh Muhammad Saw.,yakni Al-Quran.”  
Bahasanya yang demikian memesonakan, redaksinya yang demikian teliti, dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung, telah mengantar kalbu masyarakat yang  ditemuinya berdecak kagum, walau nalar sebagaian mereka menolaknya. Nah, terhadap yang menolak itu Al-Quran tampil sebagai mukjizat,sedangkan fungsinya sebagai hudan ditunjukkan kepada seluruh umat manusia,sekalipun yang memfungsikannya dengan baik 
sebagai hudan hanyalah orang-orang yang bertakwa.

 






Artinya : Alif Lam Mim. Itulah ( Al-Quran) kitab yang sempurna,tiada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk untuk orang -orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah” [2] : 1-2 )
            Ayat-ayat Allah yang terdapat dialam raya,telah terhampar jauh sebelum turunnya ayat- ayat Al- Quran. Ia juga sangat memesonkan. Sedemikian indah memesonakan sehingga banyak orang yang terpaku dan terpukau,bahkan berusaha menguasai dan meraihnya sebanyak mungkin. Sikap ini mengacu kepada materialisme sehingga ayat-ayat itu tidak lagi dijadikan ayat atau tanda perjalanan,tetapi telah menjadi tujuan.
            Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau rambu-rambu lalu lintas demikian indah memesonakan sehingga yang seharusnya menjadi tanda dan petunjuk jalan,tetapi membuat si pejalan malah terpaku dan terpukau di tempatnya.
Kalam ilahi yang merupakan ayat-ayat Allah, yang juga sangat memesonakan,itu mengakibatkan sebagian kita hanya berhenti dalam pesona bacaan ketika ia dilantunkan,seakan- akan kitab suci ini hanya diturunkan untuk dibaca.

            Memang wahyu pertama adalah iqra’ bismi Rabbik,bahkan kata iqra’ diulangi dua kali. Akan tetapi, mengandung makna “ telitilah,dalamilah” karena dengan penelitian dan pendalaman itu manusia dapat meraih sebanyak mungkin kebahagiaan.
Kitab yang telah kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka memikirnya ayat-ayatnya dan agar ulul albab mengingat/menarik pelajaran darinya.

QS. Shad [38]:29
 

            Bacaan hendaknya disertai engan kesadaraan akan keagungan Al- Quran, pemahaman dan penghayatan disertai dengan tadzakkur dan tadabbur. Sungguh aneh jika ada pendengar yang berdecak kagum dengan mendengar bacaan seorang qari’, berseru dengan kata “Allah,....Allah”, bergembira dan senyum simpul menghiasi bibirnya,padahal ayat yang dibaca sang qari’ adalah ayat ancaman. Itulah salah satu contoh mereka yang terpesona dengan bacaan.
            Al-Quran mengecam yang tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk berpikir dan menghayati Al-Quran. Mereka itu dinilainya telah tertutup hatinya. Apakah mereka tidak memikirkan Al- Quran, atau hati terkunci? (QS.Muhammad [47] : 24 )
            Janganlah sikap kita terhadap ayat- ayat Allah mencapai tingkat yang pernah dialami oleh umat –umat sebelum kita,yang antara lain dicatat oleh Allah Swt. Dengan firman-Nya, Diantara mereka ada ummiyyun yang tidak mengetahui al-kitab kecuali amaniyy ( QS. Al-Baqarah[2]:78) Dan diantara mereka ada yang buta huruf,tidak mengetahui Al-kitab (Taurut),kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga
            Ibn ‘Abbas menafsirkan kata ummiyyun dengan arti tidak mengetahui makna pesan –pesan kitab suci, walau boleh jadi mereka menghafalnya. Mereka hanya berangan –angan atau “amaniyy” dalam istilah ayat diatas,yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas dengan “ sekadar membacanya”. Keadaan yang demikian itulah yang disebutkan oleh Al-Quran dengan seperti keledai yang memikul buku-buku (QS. Al-Jumu’ah[62]:5), atau seperti pengembala yang memanggil binatang yang tak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli,bisu, dan buta, (maka sebab itu) mereka tidak mengerti (QS. Al-Baqarah[2]:171).

            Al-Quran menjelaskan bahwa di Hari kemudian nanti, Rasul Muhammad Saw., Penerima Al- Quran itu, akan mengadu kepada Allah. Beliau berkata, “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku (umatku) telah menjadikan Al- Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan”( QS.Al-Furqan [25]:30).
Menurut Ibn Al-Qayyim, banyak hal yang dicakup oleh kata mahjura yang diterjemahkan dengan “ sesuatu yang tidak diacuhkan”, antara lain :

  1.   Tidak tekun mendengarkannya 
  2.  Tidak mengindahkannya halal dan haramnya, walau dipercaya dan dibaca. 
  3.  Tidak menjadikan rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushul al-din  (prinsip-prinsip ajaran agama) dan rinciannya. 
  4.    Tidak berupaya untuk memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Yang menurunkan-Nya. 
  5.    Tidak menjadikannya obat bagi semua penyakit kejiwaan.

            Semua yang disebut di atas tercakup dalam pengaduan Nabi Muhammad Saw. Semoga kita tidak hanya memiliki mushaf Al-Quran, tetapi  pandai juga membaca,memahami,dan mengamalkan tuntunannnya. Karena, pasti kita enggan dipersamakan dengan keledai atau binatang apapun. Semoga keengganan itu dapat kita buktikan dengan perilaku. Demikian,.Wallahu a’lam

Baca Selengkapnya

Kamis, Februari 20, 2014

#1Hari1Ayat (Rezeki)




Diharamkan bagimu (memakan) bangkai,darah,daging babi,(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,yang tercekik,yang terpukul,yang jatuh, yang ditanduk,dan diterkam binatang buas,kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,dan (diharamkan bagimu)yang disembelih untuk berhala.Dan ( diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah,mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang -orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu,sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu,dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka baran siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (QS. al -Maaidah[5]:(3)



Mencari Rezeki
Panduan islam dalam berusaha

          Imam ibnu Qoyyim mengatakan “ Sungguh Rosululloh telah meninggalkan kita dan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutkan ilmunya kepada umat’’. Beliau telah mengajari segala sesuatu kepada umat sampai masalah buang hajat,adab pergaulan,
adab tidur,berdiri,duduk,makan,minum,berkendaraan,safar dan seluruh hukum yng berkaitan dengan tata cara kehidupan dan kematian. Demikian pula Rosulollah mengajarkan perkara-perkara yang berhubungan dengan kehidupan mereka. Andaikan mereka mengilmui dan mengamalkannya,tentu akan tentram kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Akhirnya,beliau datang membawa kebaikan dunia dan akhirat dengan kebaikan yang banyak.
          Di antara sekian banyak perkara yang telah diatur oleh syariat adalah masalah berusaha dan mencari rezeki. Bagaimana pandangan islam terhadap usahanya seseorang muslim dalam kehidupannya di dunia?

ANJURAN BERUSAHA DAN MENCARI MENCARI REZEKI
            Ketahuilah,Alloh dengan kelembutan hikmah-Nya telah menjadikan dunia ini sebagai negeri mencari sebab dan usaha. Kadangkala usaha tersebut merupakan persiapan menuju kampung akhirat atau hanya untuk tujuan kehidupan dunia yang semu. Islam sebagai agama yang sempurna,tidak melupakan sisi kehidupan dunianya seseorang muslim,bahkan menganjurkan kepada mereka untuk berusaha dan mencari rezeki. Alloh berfirman :

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian dimuka bumi dan kami adakan bagimu dimuka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur (QS.al-A’rof [7]:10)

Allah berfirman pula :

 



Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (QS.an-Naba’[78]:11)

       Jelas ayat Al-Qur’an diatas menjelaskan sebenarnya kita telah dijamin oleh Allah mengenai rezeki yang kita dapat. Rezeki itu sudah ada tinggal kita berusaha untuk mendapatkannya. Bila kita bermalas malasan tak mungkin rezeki yang disiapkan itu datang sendiri,sebuah perumpamaan bila ada makanan ketika itu kita lapar namun kita tak berusaha untuk mengambil lalu memakannya sampai kapanpun kita akan tetap lapar.
semua yang ada didunia ini sudah ada yang mengatur dan menjamin adanya. Namun banyak dari kita yang salah dalam berikhtiar,menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Hitam maupun putih jalannya tak dihiraukan yang  terpenting mendapatkan yang diinginkan. Naudzubillahi mindzalik.....

Semoga kita selalu dalam bimbingan dan perlindungan-Nya.



Baca Selengkapnya
-->