QS.al kautsar[108]:2
Berqurban ( yang dalam
istilah fiqihnya disebut udhhiyah ) adalah menyembelih binatang ternak pada
hari raya Idul Adha dan hari tasryriq dengan niat mendekatkan diri kepada Allah
Ta’ala.
Syariat berqurban yang
dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim kemudian disunnahkan oleh Rosullolah ini
mengandung hikmah yaang tak terhingga,ungkapan rasa syukur kepada Allah atas
segala nikmat-Nya, membantu dan memberikan rasa senang kepada fakir miskin yang
mungkin tidak pernah merasakan nikmatnya daging kambing atau sapi, juga demi
menghidupkan sunnah para nabi serta masih banyak hikmah lainnya.
Oleh karena itu tidaklah menjadi sesuatu yang aneh tatkala kita suci mensyariatkan ibadah ini bahkan mewajibkan bagi yang mampu serta mengancam orang yang mampu lalu tidak berqurban untuk tidak mendekati tempat sholat Idul Adha, sebagaimana sabda Rasullolah” Barang siapa yang mempunyai keluasaan rezeki,lalu tidak berqurban, maka janganlah mendekti tempat sholat kami.” (HR.Ibnu Majah dengan sanad yang shohih)
Oleh karena itu tidaklah menjadi sesuatu yang aneh tatkala kita suci mensyariatkan ibadah ini bahkan mewajibkan bagi yang mampu serta mengancam orang yang mampu lalu tidak berqurban untuk tidak mendekati tempat sholat Idul Adha, sebagaimana sabda Rasullolah” Barang siapa yang mempunyai keluasaan rezeki,lalu tidak berqurban, maka janganlah mendekti tempat sholat kami.” (HR.Ibnu Majah dengan sanad yang shohih)
Kita sangat gembira
tatkala melihat banyaknya kaum muslimin yang menyambut panggilan mulia
ini,mengorbankan sebagian harta atau hewan ternak mereka untuk Allah
Ta’ala,semoga Allah menerima amal kebaikan kita dan semoga Allah menerima amal
kebaikan kita dan semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik didunia terutama di akhirat kelak.
Namun ada beberapa hal
yang perlu kita renungkan kembali,Apakah ibadah qurban kita sudah benar-benar
mendapatkan hasil yang kita inginkan?Apakah benar-benar sudah bisa mendekatkan
diri kita kepda-Nya?Dari sini maka ada dua pertanyaan besar yang harus kita
jawab :
Pertama: Apakah niat kita benar- benar murni dan ikhlas hanya karena Allah semata?Kita sangat mengkhawatirkn adanya embel- embel duniawi dalam ibadah ini. Kita sangat mengawatirkan ibadah ini dilakukan hanya demi menjaga gensi,atau supaya lebih dihormati oleh masyarakatnya, atau hanya karena tendensi lainnya.
Pertama: Apakah niat kita benar- benar murni dan ikhlas hanya karena Allah semata?Kita sangat mengkhawatirkn adanya embel- embel duniawi dalam ibadah ini. Kita sangat mengawatirkan ibadah ini dilakukan hanya demi menjaga gensi,atau supaya lebih dihormati oleh masyarakatnya, atau hanya karena tendensi lainnya.
Bahkan yang sangat
menyedihkan dari beberapa berita,ibadah ini dijadikan ajang kampanye untuk
merebutkan sebuah kedudukan semu dialam yang fana ini,berqurban karena ingin
mencalonkan diri sebagai pejabat dinegeri ini,berqurban dengan mengibarkan
bendera partai ini dan itu.Kalau itu semua sampai terjadi,maka kita hanya bisa
mengadukandukan nestapa kita kepada Allah atas semua kejadian ini. Padahal Allah
tidaklah menginginkan dari syariat qurban ini kecuali keikhlasan dan ketaqwaan
hamba-Nya. Allah berfirman :
QS.Al Hajj [22]:37)
Kedua : Apakah
berqurban kita sudah benar –benar sesuai dengan tuntunan Rosullolah?Terkadang karena
terlalu semangatnya atau mungkin dengan dalih lainnya,sebagian kaum muslimin
membuat tata cara berqurban yang menyelisihi aturan syar’i,Semacam iuran
beberapa orang untuk berqurban seekor kambing,atau berqurban dengan binatang
yang kurang umurnya atau belum tanggal gigi, bahkan ada sebagian orang yang
mengajak berqurban dengan menggunakan uang lalu dibagikan kepada fakir miskin
berupa uang juga dengan alasan qurban tidak harus menyembelih binatang?La haula
waa quwwata illa billah....
Juga masih banyak kita
saksikan berbagai pelanggaran syar’i seputar ibadah agung ini.Maka hendaknya
kita bertanya kepada diri kita masing –masing, apakah ibadah qurban kita sudah
benar-benar ikhlas hanya karena-Nya dan sudahkah sesuai dengan ketentuan
Rasulullah? Semoga Allah selalu membimbing kita untuk meniti jalan kebenaran.





0 komentar:
Posting Komentar