Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang
yang gugur di jalan Allah(bahwa mereka) itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak menyadarinya (QS. Al-Baqarah[2]:154)
kata syahid dan syuhada,dalam istilah keagamaan populer dipahami dengan arti “orang yang gugur dimedan juang mempertahankan nilai-nilai agama”. Sementara ulama berpendapat bahwa Al-Quran tidak menggunakan kata syahid untuk menunjuk orang yang gugur.
Pendapat itu tidak didukung oleh seluruh ulama. Al-Damighani,misalnya dalam kamus Al-Quran-Nya menyebut tujuh makna dari kata syahid dan kata – kata yang seakar dengannya. Yaitu para nabi,malaikat,pemelihara,umat Nabi Muhammad Saw.,yang gugur dijalan Allah,yang menyaksikan kebenaran atas mahluk Allah dan sekutu.
Dalam Al-Quran,kata syahid secara berdiri sendiri ditemukan sebanyak 35 kali,sedangkan syuhada’sebanyak delapan kali. Kata-kata tersebut terambil dari akar kata syahida; sedangkan kata yang terangkai dari huruf-huruf syin,ha,dan dal menurut pakar bahasa Arab,Ibn Faris,tidak keluar maknanya dari “Kehadiran/keberadaan,pengetahuan,dan pemberitahuan”.
Yang gugur dalam peperangan di jalan Allah dinamai Syahid karena para malaikat menghadiri kematiannya,atau karena dia gugur di bumi, dan bumi juga dinamai syahidah sehingga yang gugur dinamai syahid.
Patron kata syahid dapat berarti objek dan dapat juga berarti subjek. Sehingga,syahid dapat berarti yang disaksikan atau menyaksikan. Dia disaksikan oleh pihak lain sebagai pejuang,serta dijadikan saksi dalam arti teladan. Pada saat yang sama, dia pun menyaksikan kebenaran melalui kegugurannya,serta menyaksikan pula ganjaran ilahi yang dijanjikan baginya.
Nabi Muhammad Saw. Adalah syahid dan kita, umatnya adalah syuhada,begitu penegasan QS. Al-Baqarah[2]:143 dan Al-Hajj[22]:78. Kedua kata tersebut berarti teladan,dalam arti umat Islam harus menjadi syuhada’ (teladan-teladan kebijakan) bagi umat lain,dan Nabi Muhammad Saw. Adalah teladan bagi umatnya.
Para syahid,bahkan semua yang telah wafat, menurut banyak ulama,kini sedang berada di satu alam yang dinamai barzakh. Al-Quran melukiskan kehidupan di sana dengan firman-Nya,...Sehingga apabila datang kematian kepada seorang di antara mereka(yang kafir), dia berkata, “ Ya Tuhanku,kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.”(Allah berfirman), “Sekali-kali tidak!Sesungguhnyaitu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding pemisah sampai hari mereka dibangkitkan” (QS.Al-Mu’minun[23]:99-100.
Dari segi bahasa, “barzakh”berarti “pemisah”,maksudnya adalah “periode antara kehidupan dunia dan akhirat”. Keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan di dunia dan akhirat karena ia diibaratkan suatu ruangan terpisah yang transparan atau,katakanlah,terbuat dari kaca. Didepan,mereka melihat kehidupan ukhrawi serta apa yang akan mereka peroleh,sedangkan di belakangnya mereka dapat melihat kita yang sedang hidup di planet ini.
...... Fir’aun beserta kaum(pengikut)-Nya dikepung oleh siksa yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan (nanti) pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “ Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras (QS.Al-Mu’min[40]:45-46).
Adapun para syahid,mereka dilukiskan sebagai orang – orang yang hidup dan mendapatkan rezeki. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orng yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka) itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup,tetapi kamu tidak menyadarinya (QS.Al-Baqarah [2]: 154). Dalam ayat lain, ditegaskan hal serupa, janganlah kamu sekali-kali menduga yang gugur di jalan Allah adalah orang – orang mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka memperoleh rezeki (QS. Ali ‘imron[3]:169.
kata syahid dan syuhada,dalam istilah keagamaan populer dipahami dengan arti “orang yang gugur dimedan juang mempertahankan nilai-nilai agama”. Sementara ulama berpendapat bahwa Al-Quran tidak menggunakan kata syahid untuk menunjuk orang yang gugur.
Pendapat itu tidak didukung oleh seluruh ulama. Al-Damighani,misalnya dalam kamus Al-Quran-Nya menyebut tujuh makna dari kata syahid dan kata – kata yang seakar dengannya. Yaitu para nabi,malaikat,pemelihara,umat Nabi Muhammad Saw.,yang gugur dijalan Allah,yang menyaksikan kebenaran atas mahluk Allah dan sekutu.
Dalam Al-Quran,kata syahid secara berdiri sendiri ditemukan sebanyak 35 kali,sedangkan syuhada’sebanyak delapan kali. Kata-kata tersebut terambil dari akar kata syahida; sedangkan kata yang terangkai dari huruf-huruf syin,ha,dan dal menurut pakar bahasa Arab,Ibn Faris,tidak keluar maknanya dari “Kehadiran/keberadaan,pengetahuan,dan pemberitahuan”.
Yang gugur dalam peperangan di jalan Allah dinamai Syahid karena para malaikat menghadiri kematiannya,atau karena dia gugur di bumi, dan bumi juga dinamai syahidah sehingga yang gugur dinamai syahid.
Patron kata syahid dapat berarti objek dan dapat juga berarti subjek. Sehingga,syahid dapat berarti yang disaksikan atau menyaksikan. Dia disaksikan oleh pihak lain sebagai pejuang,serta dijadikan saksi dalam arti teladan. Pada saat yang sama, dia pun menyaksikan kebenaran melalui kegugurannya,serta menyaksikan pula ganjaran ilahi yang dijanjikan baginya.
Nabi Muhammad Saw. Adalah syahid dan kita, umatnya adalah syuhada,begitu penegasan QS. Al-Baqarah[2]:143 dan Al-Hajj[22]:78. Kedua kata tersebut berarti teladan,dalam arti umat Islam harus menjadi syuhada’ (teladan-teladan kebijakan) bagi umat lain,dan Nabi Muhammad Saw. Adalah teladan bagi umatnya.
Para syahid,bahkan semua yang telah wafat, menurut banyak ulama,kini sedang berada di satu alam yang dinamai barzakh. Al-Quran melukiskan kehidupan di sana dengan firman-Nya,...Sehingga apabila datang kematian kepada seorang di antara mereka(yang kafir), dia berkata, “ Ya Tuhanku,kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.”(Allah berfirman), “Sekali-kali tidak!Sesungguhnyaitu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding pemisah sampai hari mereka dibangkitkan” (QS.Al-Mu’minun[23]:99-100.
Dari segi bahasa, “barzakh”berarti “pemisah”,maksudnya adalah “periode antara kehidupan dunia dan akhirat”. Keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan di dunia dan akhirat karena ia diibaratkan suatu ruangan terpisah yang transparan atau,katakanlah,terbuat dari kaca. Didepan,mereka melihat kehidupan ukhrawi serta apa yang akan mereka peroleh,sedangkan di belakangnya mereka dapat melihat kita yang sedang hidup di planet ini.
...... Fir’aun beserta kaum(pengikut)-Nya dikepung oleh siksa yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan (nanti) pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “ Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras (QS.Al-Mu’min[40]:45-46).
Adapun para syahid,mereka dilukiskan sebagai orang – orang yang hidup dan mendapatkan rezeki. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orng yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka) itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup,tetapi kamu tidak menyadarinya (QS.Al-Baqarah [2]: 154). Dalam ayat lain, ditegaskan hal serupa, janganlah kamu sekali-kali menduga yang gugur di jalan Allah adalah orang – orang mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka memperoleh rezeki (QS. Ali ‘imron[3]:169.
Sementara orang memahami “
ketidakmatian (kehidupan)mereka” dengan
arti keharuman dan kelanggengan nama mereka di dunia ini. Kalau demikian,
mengapa QS. Al-Baqarah[2]:154 di atas menyatakan,....tetapi kamu tidak menyadarinya?Bukankah keharuman nama itu kita
sadari? Kemudian, bukankah ada yang gugur dan dikenal namanya secara
harum,padahal hakikatnya dia tidak dinilai Allah sebagai Syahid karena
kegugurannya bukan karena Allah? Apakah dengan demikian dipersamakan antara
yang baik dan yang buruk?Di sisi lain, bagaimana pula halnya dengan para syahid yang tidak dikenal, padahal
jumlah mereka alangkah banyaknya. Apakah mereka tidak mendapat ganjaran?
Bukankah Allah menyatakan bahwa mereka hidup dan mendapat rezeki?
Cukup banyak ayat yang dapat dijadikan titik pijak bagi adanya apa yang dinamai kehidupan di alam barzakh. Bacalah misalnya QS. Al Baqarah[2]: 28, Al-Mu’min[40]:11, dan lain sebagainya. Hadis- hadis Nabi pun – dengan kualitas yang beragam – amat banyak yang berbicara tentang alam barzakh, sehingga amat riskan untuk menolak keberadaan alam itu hanya dengan menggunakan satu atau dua ayat yang sepintas terlihat berbeda dengan keterangan tersebut.
Semoga arwah mereka tetap damai dan tenang ketika menengok ke jendela dunia dan melihat kita. Amin. Demikian,Wallahu a’lam.
Cukup banyak ayat yang dapat dijadikan titik pijak bagi adanya apa yang dinamai kehidupan di alam barzakh. Bacalah misalnya QS. Al Baqarah[2]: 28, Al-Mu’min[40]:11, dan lain sebagainya. Hadis- hadis Nabi pun – dengan kualitas yang beragam – amat banyak yang berbicara tentang alam barzakh, sehingga amat riskan untuk menolak keberadaan alam itu hanya dengan menggunakan satu atau dua ayat yang sepintas terlihat berbeda dengan keterangan tersebut.
Semoga arwah mereka tetap damai dan tenang ketika menengok ke jendela dunia dan melihat kita. Amin. Demikian,Wallahu a’lam.





0 komentar:
Posting Komentar