Rabu, Februari 26, 2014

#1Hari1Ayat (Ayat-Ayat Allah)


            Al-Quran dan fenomena alam dinamai oleh Al-Quran dengan ayat-ayat Allah. Ayat berarti tanda,yakni tanda-tanda perjalanan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
            Al-Quran Al-Karim adalah kitab yang rasul Saw. Dinyatakan sebagai “Tali Allah yang terulur kan ke langit ke bumi,di dalamnya terdapat berita tentang umat masa lalu,dan kabar tentang situasi masa datang. Siapa yang berpegang dengan petunjuknya dia tidak akan sesat. “Kitab suci ini juga memperkenalkan dirinya sebagai hudan lil al-nas (petunjuk bagi seluruh umat manusia),sekaligus menantang manusia dan jin untuk menyusun semacam Al-Quran. Dari sini Kitab suci kita berfungsi sebagai mukjizat(bukti kebenaran),sekaligus kebenaran itu sendiri.
            Lima belas abad yang lalu,ayat-ayat Allah itu diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Menurut Orientalis Gibb, “Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini,yang telah memainkan alat bernada nyaring  yang demikian mampu dan berani,dan yang demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya seperti apa yang dibaca oleh Muhammad Saw.,yakni Al-Quran.”  
Bahasanya yang demikian memesonakan, redaksinya yang demikian teliti, dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung, telah mengantar kalbu masyarakat yang  ditemuinya berdecak kagum, walau nalar sebagaian mereka menolaknya. Nah, terhadap yang menolak itu Al-Quran tampil sebagai mukjizat,sedangkan fungsinya sebagai hudan ditunjukkan kepada seluruh umat manusia,sekalipun yang memfungsikannya dengan baik 
sebagai hudan hanyalah orang-orang yang bertakwa.

 






Artinya : Alif Lam Mim. Itulah ( Al-Quran) kitab yang sempurna,tiada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk untuk orang -orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah” [2] : 1-2 )
            Ayat-ayat Allah yang terdapat dialam raya,telah terhampar jauh sebelum turunnya ayat- ayat Al- Quran. Ia juga sangat memesonkan. Sedemikian indah memesonakan sehingga banyak orang yang terpaku dan terpukau,bahkan berusaha menguasai dan meraihnya sebanyak mungkin. Sikap ini mengacu kepada materialisme sehingga ayat-ayat itu tidak lagi dijadikan ayat atau tanda perjalanan,tetapi telah menjadi tujuan.
            Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau rambu-rambu lalu lintas demikian indah memesonakan sehingga yang seharusnya menjadi tanda dan petunjuk jalan,tetapi membuat si pejalan malah terpaku dan terpukau di tempatnya.
Kalam ilahi yang merupakan ayat-ayat Allah, yang juga sangat memesonakan,itu mengakibatkan sebagian kita hanya berhenti dalam pesona bacaan ketika ia dilantunkan,seakan- akan kitab suci ini hanya diturunkan untuk dibaca.

            Memang wahyu pertama adalah iqra’ bismi Rabbik,bahkan kata iqra’ diulangi dua kali. Akan tetapi, mengandung makna “ telitilah,dalamilah” karena dengan penelitian dan pendalaman itu manusia dapat meraih sebanyak mungkin kebahagiaan.
Kitab yang telah kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka memikirnya ayat-ayatnya dan agar ulul albab mengingat/menarik pelajaran darinya.

QS. Shad [38]:29
 

            Bacaan hendaknya disertai engan kesadaraan akan keagungan Al- Quran, pemahaman dan penghayatan disertai dengan tadzakkur dan tadabbur. Sungguh aneh jika ada pendengar yang berdecak kagum dengan mendengar bacaan seorang qari’, berseru dengan kata “Allah,....Allah”, bergembira dan senyum simpul menghiasi bibirnya,padahal ayat yang dibaca sang qari’ adalah ayat ancaman. Itulah salah satu contoh mereka yang terpesona dengan bacaan.
            Al-Quran mengecam yang tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk berpikir dan menghayati Al-Quran. Mereka itu dinilainya telah tertutup hatinya. Apakah mereka tidak memikirkan Al- Quran, atau hati terkunci? (QS.Muhammad [47] : 24 )
            Janganlah sikap kita terhadap ayat- ayat Allah mencapai tingkat yang pernah dialami oleh umat –umat sebelum kita,yang antara lain dicatat oleh Allah Swt. Dengan firman-Nya, Diantara mereka ada ummiyyun yang tidak mengetahui al-kitab kecuali amaniyy ( QS. Al-Baqarah[2]:78) Dan diantara mereka ada yang buta huruf,tidak mengetahui Al-kitab (Taurut),kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga
            Ibn ‘Abbas menafsirkan kata ummiyyun dengan arti tidak mengetahui makna pesan –pesan kitab suci, walau boleh jadi mereka menghafalnya. Mereka hanya berangan –angan atau “amaniyy” dalam istilah ayat diatas,yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas dengan “ sekadar membacanya”. Keadaan yang demikian itulah yang disebutkan oleh Al-Quran dengan seperti keledai yang memikul buku-buku (QS. Al-Jumu’ah[62]:5), atau seperti pengembala yang memanggil binatang yang tak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli,bisu, dan buta, (maka sebab itu) mereka tidak mengerti (QS. Al-Baqarah[2]:171).

            Al-Quran menjelaskan bahwa di Hari kemudian nanti, Rasul Muhammad Saw., Penerima Al- Quran itu, akan mengadu kepada Allah. Beliau berkata, “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku (umatku) telah menjadikan Al- Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan”( QS.Al-Furqan [25]:30).
Menurut Ibn Al-Qayyim, banyak hal yang dicakup oleh kata mahjura yang diterjemahkan dengan “ sesuatu yang tidak diacuhkan”, antara lain :

  1.   Tidak tekun mendengarkannya 
  2.  Tidak mengindahkannya halal dan haramnya, walau dipercaya dan dibaca. 
  3.  Tidak menjadikan rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushul al-din  (prinsip-prinsip ajaran agama) dan rinciannya. 
  4.    Tidak berupaya untuk memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Yang menurunkan-Nya. 
  5.    Tidak menjadikannya obat bagi semua penyakit kejiwaan.

            Semua yang disebut di atas tercakup dalam pengaduan Nabi Muhammad Saw. Semoga kita tidak hanya memiliki mushaf Al-Quran, tetapi  pandai juga membaca,memahami,dan mengamalkan tuntunannnya. Karena, pasti kita enggan dipersamakan dengan keledai atau binatang apapun. Semoga keengganan itu dapat kita buktikan dengan perilaku. Demikian,.Wallahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar

-->