Peluh sang
kakak
oleh Nisa
Artiwi
Nama saya Nisa Artiwi. Lahir di ponorogo,30 oktober 1995. Sejak kecil saya tinggal di Ponorogo bersama ibu,bapak dan adik. Kami tinggal bersama kakek dan nenek,Karena Bapak belum memiliki tempat tinggal sendiri. Bapak anak ke-3 dari 6 bersaudara. Semua saudara Bapak telah dibangunkan rumah oleh kakek. Hanya Bapak yang tidak,karena kakek memang sengaja supaya Bapak bisa tetap tinggal bersamanya,untuk membantu pekerjaan kakek yang pada waktu itu membuat pakaian kuda dari kulit sapi.
Usaha dan pekerjaan kakek memang sukses pada waktu itu. Banyak orang memesan dan terkadang Bapak sampai kewalahan. Tapi semenjak kakek meninggal usaha itu semakin renggang,bahkan tidak ada pesanan sama sekali.
Kini Bapak belum memiliki pekerjaan tetap. Tetapi ibu berusaha menutupi kekurangan itu. Selain mengurus urusan rumah tangga, ibu juga mempunyai pekerjaan untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ibu adalah seorang pembuat kue klepon yang dititipkan kepada penjual jajanan di pasar. Sudah hampir 10 tahun ibu menggeluti pekerjaan itu. Ibu memulai pekerjaan itu,ketika saya duduk dibangku kelas 2 SD.
Setiap hari, saya mencoba untuk membantu ibu, sebisa dan semampu saya. Dimulai dari siang hari membuat wadah klepon berbentuk lingkaran yang terbuat dari daun pisang. Biasanya orang-orang menyebut dengan nama “Sudi”. Setelah selesai membuat sudi, ibu memecah kelapa dan memarutnya untuk membaluri kue klepon yang sudah matang. Sore hari, ibu membuat adonan kue dari tepung ketan dan air, lalu dicampur rata hingga membentuk adonan yang kalis. Kemudian dibentuk bulatan bulatan kecil dengan diisi gula jawa di dalamnya. Tidak jarang saya dan Bapak membantu ibu membuat bulatan-bulatan tersebut,karena memang membutuhkan waktu yang lama.
Setelah semua selesai,Ibu merebus bulatan kecil itu hingga matang dan kemudian dibaluri dengan kelapa parut. Ibu sudah biasa tidur larut malam karena memang harus menyelesaikan pekerjaan itu. Dan setelah semua selesai,ibu baru bisa istirahat.
Dini hari,pukul 02.30 ibu dan bapak harus bangun membungkus kue-kue tersebut. Kemudian pukul 03.00 atau lebih, bapak mengantarnya ke pasar untuk dititipkan kepada para penjual. Kurang lebih pukul 09.00, Ibu mengambil hasilnya ke pasar. Begitulah usaha ibu dan bapak selama bertahun-tahun.
Ketika saya duduk di bangku kelas 6 SD, saya benar-benar berjuang untuk menghadapi UNAS. Rajin belajar,berusaha,serta berdoa tidak henti-hentinya saya lakukan,hingga akhirnya ketika pengumuman kelulusan tiba,saya mendapat nilai UNAS tertinggi di sekolah dan itu cukup membuat kedua orang tua saya bangga.
Setelah lulus SD, saya melanjutkan ke SMP favorit di Ponorogo. Kemampuan saya tidak kalah dengan siswa lainnya. Bahkan di kelas 3 SMP,saya lolos seleksi tingkah sekolah untuk mengikuti olimpiade fisika se-karesidenan Madiun yang diselenggarakan oleh HMJ FMIPA Universitas Negeri Malang. Tapi perjuangan saya berhenti sampai disitu,karena saya tidak masuk perempat final. Meskipun gagal tapi setidaknya saya saya masih ada yang dapat dibanggakan. Saya mendapat peringkat 25 dari kurang lebih 84 peserta.
Ketika saya kelas 3 SMP, saya sempat bingung harus melanjutkan sekolah dimana, sementara ibu dan bapak tidak memiliki banyak biaya,apalagi biaya sekolah di kec. Ponorogo juga relatif tinggi,selebihnya diluar kecamatan,dan saya tidak memiliki kendaraan untuk menempuh jarak yang cukup jauh tersebut. Bapak juga sempat berpikir dan menyarankan saya untuk mondok,mendalami ilmu agama,agar bermanfaat dan bisa menyampaikannya. Tapi dalam hati kecil saya,saya benar-benar ingin melanjutkan sekolah SMA, saya ingin menjadi seorang yang berpendidikan dan yang pasti saya tidak berniat untuk menuruti saran bapak.Waktu itu saya benar-benar ingin melanjutkan, tapi saya juga tahu diri,sadar bahwa orang tua saya tidak mampu membiayai,apalagi dua bulan sebelumnya saya UNAS,ibu melahirkan adik saya,dan itu berarti tanggungan ibu dan bapak bertambah. Saya hanya bisa pasrah,segala urusan saya serahkan kepada Allah SWT,biarlah Dia yang mengatur.
Suatu hari, bibi saya menelepon dan menanyakan kabar tentang kami,terutama saya. Beliau bertanya,hendak kemana saya melanjutkan setelah lulus SMP. Saya menceritakan semua,hingga akhirnya beliau menawari saya untuk tinggal bersama keluarganya dan bersedia membiayai sekolah saya hingga tamat SMA dan alhamdulillah keadaan ekonomi beliau termasuk kategori menengah ke atas.
Saya menanyakan hal ini pada Ibu dan bapak,meminta pertimbangan mereka. Bapak setuju dan memberikan izin kepada saya. Sedangkan Ibu,sedikit berat melepaskan saya. Saya anak pertama dari 4 bersaudara dan saya satu-satunya anak perempuan ibu dan bapak. Selama ini saya cukup membantu pekerjaan orang tua,terutama ibu,dan itulah sebab mengapa ibu sedikit berat melepas saya,yang akhirnya beliau mengizinkan.
Bibi tinggal di kota kediri, saya pun harus bersekolah disana,dan tinggal bersama keluarganya. Tidak mudah untuk hidup bersama orang lain. Disana saya harus rajin,displin,dan pandai beradaptasi dengan kehidupan keluarganya. Saya juga harus membantu segala kesibukan disana. Memang berat menjalani itu semua, bahkan satu semester pertama saya sempat tidak kerasan. Tapi demi sekolah saya,saya berusaha untuk tetap bertahan dan bagaimanapun juga saya tidak mau putus sekolah.
Selama di SMA,saya mengikuti berbagai olimpiade,baik olimpiade antar kelas dalam satu sekolah maupun OSN tingkat kabupaten. Saya pernah 2 kali mengikuti OSN tingkat kabupaten dengan mata pelajaran kimia,namun semuanya gagal. Saya hanya bisa berprasangka baik kepada Allah mungkin belum waktunya menang bagi saya. Selain itu,alhamdulillah saya selalu peringkat 5 besar di kelas selama 5 semester.
Kini,sudah hampir 3 tahun saya tinggal di kediri,dan benar-benar membutuhkan perjuangan,kekuatan, dan kesabaran. Awalnya,saya tidak berniat untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi,karena faktor biaya. Meminta orang tua untuk membiayai jelas tidak mungkin,apalagi di tahun yang sama,adik saya juga harus melanjutkan kejenjang SMP. Saya tidak mau membebani orang tua saya. Setidaknya saya bisa mengalah untuk masa depan adik saya. Saya juga tidak mau jika harus meminta bibi untuk membiayai kuliah saya sedangkan tanggungan beliau masih banyak. Bibi memiliki 5 orang anak,anak pertamanya masih di bawah umur saya,dan mereka masih menjadi tanggungan bibi, saya tahu diri untuk hal ini.
Suatu hari,saya lihat di mading dan membaca brosur salah satu Universitas di Jawa Timur,saya tertarik dan berniat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi,apalagi guru BK/BP menjelaskan bahwa ada banyak beasiswa untuk siswa dari keluarga kurang mampu. Ditambah lagi,ada kakak-kakak alumni yang sosialisasi memberi informasi tentang beberapa informasi tentang beberapa beasiswa yang ada di Indonesia,termasuk Beastudi Etos dan mereka bersedia memberi bantuan kepada kami,siswa kelas XII. Awalnya,saya memang tidak begitu mempercayainya,tapi kakak-kakak alumni berusaha untuk meyakinkan terlebih lagi teman-teman juga menyarankan untuk melanjutkan sekolah. Sudah dari kelas 2 SMA,teman saya memaksa saya untuk melanjutkan. Mereka tidak mau bakat yang saya miliki terbuang begitu saja tanpa ada usaha untuk dikembangkan. Guru-guru pun juga mengakui kemampuan saya.
Memang benar,sejak kecil saya suka menggambar,saya sering menggambar tokoh animasi kesukaan saya. Ketika SMP,saya sering mengisi waktu luang saya untuk melakukan hobi tersebut. Dan ketika SMA,saya tidak punya banyak waktu luang karena memang banyak pekerjaaan rumah yang harus saya selesaikan.
Saat duduk dibangku kelas 2 SMA,minat
menggambar saya semakin besar,terutama dalam teknik perspektif. Bahkan,guru
mata pelajaran saya pun mengakui hasil gambar saya terbaik dibeberapa kelas.
Bliau juga pernah meminta saya untuk mewakili sekolah dalam lomba poster
se-kabupaten kediri dalam rangka memperingati hari anti HIV/Aids Sedunia.
Tapi,usaha saya belum berhasil. Saya tidak memenangkan perlombaan tersebut.
Tapi saya tidak mau putus asa,dan mengoreksi dimana letak kekurangan saya yang
menyebabkan saya gagal. Beberapa bulan kemudian,ada tawaran lagi bagi saya
untuk mengikuti lomba desain karakter pada acara Bunkasai,Pekan Budaya
Jepang,yang diadakan tiap tahunnya. Namun,usaha saya gagal juga. Saya tidak
memenangkannya lagi.
Sebenarnya saya tidak tahu kalau seandainya saya melanjutkan ke Perguruan Tinggi saya harus mengambil jurusan apa,dan saya bingung. Ada teman saya yang menyarankan untuk mengambil jurusan Arsitektur pada Fakultas teknik di Universitas tertentu. Kebetulan jurusan tersebut salah satu jurusan yang direkomendasikan Beastudi etos. Saya merasa memiliki peluang untuk hal ini. Dan saya mencoba untuk mendaftar Beastudi Etos.
Saya menjadikan semua ini sebagai bentuk usaha saya demi masa depan. Saya harus mengumpulkan berkas-berkasnya,pulang pergi dari kediri ke ponorogo,pergi ke rumah pak RT,harus mengurus ini dan itu.Orang bilang,tidak semua usaha langsung berhasil,pasti ada kegagalan di dalamnya,dan saya sudah mempersiapkan mental dan hati saya bila belum berhasil. Saya yakin,masih ada banyak cara untuk masa depan gemilang. Asal ada niat,tekad,dan kerja keras,disitulah pasti ada jalan. Saya percaya,Allah takkan memberikan suatu cobaan yang begitu berat,dan saya yakin, Allah akan menunjukkan jalannya dan memberikan pertolongannya,kepada mereka yang ingin mengubah takdir dalam hidupnya.
Semoga perjalanan hidup saya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk diterima di Beastudi Etos.
#Semangat Sukses Ujian Nasional 2014
#Seleksi Beastudi Etos Malang
Sebenarnya saya tidak tahu kalau seandainya saya melanjutkan ke Perguruan Tinggi saya harus mengambil jurusan apa,dan saya bingung. Ada teman saya yang menyarankan untuk mengambil jurusan Arsitektur pada Fakultas teknik di Universitas tertentu. Kebetulan jurusan tersebut salah satu jurusan yang direkomendasikan Beastudi etos. Saya merasa memiliki peluang untuk hal ini. Dan saya mencoba untuk mendaftar Beastudi Etos.
Saya menjadikan semua ini sebagai bentuk usaha saya demi masa depan. Saya harus mengumpulkan berkas-berkasnya,pulang pergi dari kediri ke ponorogo,pergi ke rumah pak RT,harus mengurus ini dan itu.Orang bilang,tidak semua usaha langsung berhasil,pasti ada kegagalan di dalamnya,dan saya sudah mempersiapkan mental dan hati saya bila belum berhasil. Saya yakin,masih ada banyak cara untuk masa depan gemilang. Asal ada niat,tekad,dan kerja keras,disitulah pasti ada jalan. Saya percaya,Allah takkan memberikan suatu cobaan yang begitu berat,dan saya yakin, Allah akan menunjukkan jalannya dan memberikan pertolongannya,kepada mereka yang ingin mengubah takdir dalam hidupnya.
Semoga perjalanan hidup saya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk diterima di Beastudi Etos.
#Semangat Sukses Ujian Nasional 2014
#Seleksi Beastudi Etos Malang





0 komentar:
Posting Komentar